Menanam Benih Demokrasi: Yulianti Laliyo Ajak Santri Hubulo Jadi Garda Pengawas Pemilu
|
BONE BOLANGO- Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Bone Bolango kembali memperkuat barisan pengawasan dengan menyasar generasi muda. Pada Kamis, 12 Maret 2026, Anggota Bawaslu Bone Bolango, Yulianti Laliyo, memimpin langsung Apel Pengawasan Partisipatif yang bertempat di Pesantren Hubulo. Momentum ini menjadi catatan penting dalam agenda pengawasan tahunan, mengingat ini merupakan apel ketiga yang berhasil diselenggarakan sepanjang triwulan pertama tahun 2026 sebagai bagian dari program berkelanjutan lembaga.
Peserta apel kali ini difokuskan pada siswa kelas XII, kelompok remaja yang secara administratif tengah bertransisi menjadi pemilih pemula. Dalam amanatnya, Yulianti menekankan bahwa pelajar memiliki posisi tawar yang tinggi dalam ekosistem politik daerah. Ia menegaskan bahwa para santri dan pelajar tidak boleh hanya duduk diam sebagai penonton di bangku tribun demokrasi, melainkan harus berani turun ke lapangan untuk memastikan proses politik berjalan sesuai koridor hukum.
Lebih lanjut, Yulianti menguraikan bahwa esensi dari pengawasan partisipatif adalah keterlibatan aktif kelompok usia 17 hingga 21 tahun dalam memantau setiap jengkal tahapan pemilu maupun pilkada. Bagi kalangan mahasiswa dan pelajar, peran ini bukan sekadar tugas tambahan, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga integritas kompetisi. Dengan hadirnya mata dan telinga dari kalangan muda, ruang gerak bagi praktik kecurangan diharapkan akan semakin sempit.
Fokus utama dari gerakan ini adalah memagari generasi muda dari ancaman pelanggaran pemilu yang kian variatif. Yulianti memaparkan bahwa pemilih pemula sering kali menjadi target empuk mobilisasi politik yang tidak sehat, mulai dari iming-iming politik uang hingga paparan hoaks yang masif di media sosial. Tanpa bekal pengawasan yang kuat, antusiasme pemilih muda rentan dimanipulasi oleh kepentingan kelompok tertentu yang mengabaikan etika berdemokrasi.
Menanggapi fenomena tersebut, literasi demokrasi menjadi kunci yang ditawarkan Bawaslu Bone Bolango. Yulianti mengajak para siswa untuk mengasah nalar kritis agar mampu menyaring informasi politik secara objektif dan tidak terjebak pada pilihan yang hanya didasari oleh dorongan emosional sesaat. Dengan pemahaman yang matang, diharapkan akan lahir pemilih yang rasional dan memiliki integritas tinggi dalam menentukan masa depan daerah maupun bangsa.
Sebagai penutup, Yulianti menegaskan bahwa apel pengawasan ini bukanlah sebuah seremoni formalitas belaka, melainkan sebuah gerakan kesadaran. Menjaga kualitas demokrasi adalah tugas kolektif yang harus dipikul bersama, bukan hanya oleh penyelenggara pemilu. Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri Pesantren Hubulo tumbuh menjadi pionir yang berani melaporkan setiap bentuk pelanggaran, demi terwujudnya pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat.
Penulis & Editor: HA